Mari Kita Membuat Pendidikan Kita ‘Bebas’ dan Hidup

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa, bahasa Indonesia t

Mari Kita Membuat Pendidikan Kita ‘Bebas’ dan Hidup

Dead Poets Society yang disutradarai oleh Peter Weir ini bercerita tentang sekolah berasrama (Welton) setingkat SMA yang terkenal karena kedisiplinannya dan diakui berhasil meluluskan siswa-siswa hebat yang bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah-sekolah hebat. Layaknya sekolah berasrama, mereka terbiasa dengan keseragaman. Scene yang tampak dari ruang kelas adalah suasana kelas yang kaku dengan guru-guru hebat yang harus selalu didengar dan diikuti. inti cerita ada pada sekelompok siswa yang harus selalu tampak patuh di sekolah dan di hadapan orang tua mereka yang memang mendukung pendidikan di Welton. Namun diam-diam di balik kepatuhan tersebut, mereka adalah siswa bebas yang terkadang menertawakan kepatuhan mereka. Mereka memelesetkan empat pilar sekolah tersebut yang harus dihubungkan dengan keyakinan, Tradisi, Kehormatan, Disiplin, dan Kesempurnaan menjadi Tiruan, Horor, Dekadensi, dan Kotoran. Nama Sekolah mereka “Welton” pun dipelesetkan menjadi “Hell-ton”. Suasana monoton kelas mereka sedikit berubah dengan kedatangan seorang guru baru, John Keating (diperankan oleh Robin Williams). John Keating memberi mereka nuansa baru. Kata-kata John Keating di hari pertamanya mengajar “Carpe Diem” dalam bahasa latin yang diinggriskan oleh mereka menjadi “Seize the Day” dan diindonesiakan menjadi “Raihlah Kesempatan” menjadi motivasi buat mereka mengejar impiannya bahkan mengejar cinta yang tampak tidak mungkin sekalipun. Kepenasaran para siswa ini pada John Keating membuat mereka berusaha menemukan buku tahunan John Keating yang juga merupakan alumni sekolah tersebut. Dari buku itulah mereka mengetahui tentang Dead Poet’s Society, yaitu kelompok yang menghidupkan kembali sastra yang salah satu kegiatannya membaca puisi dalam sebuah gua. Kelompok ini jelas kelompok terlarang di sekolah tersebut, namun diam-diam mereka menghidupkannya kembali dan diam-diam mereka keluar dari sekolah di malam hari menuju sebuah gua untuk membaca puisi, menikmati kebahagiaan dan kebebasan mereka.

Dead Poets Society bukanlah film baru tapi rasanya tetap wajib ditonton bersama oleh para pendidik, siswa didiknya, dan bahkan para orang tua. Melihat dengan cara berbeda ini untuk mempraktikkan ajaran John Keating dalam kelasnya yang sampai-sampai menyuruh para siswa didi berdiri di atas meja untuk melihat dengan cara berbeda.Dead Poets Society bisa jadi merupakan respon atas kegelisahan mengenai pendidikan. Dan sekali lagi ini bukan film baru, dengan kata lain pendidikan sudah dan selalu menjadi isu penting sejak lama, bahkan di tempat yang jauh dari Indonesia sekalipun. Namun sayangnya fenomena yang sering muncul sekarang bisa jadi tetap merupakan potret kelam dari pendidikan, ambil contoh kasus IPDN dan korban-korban dari sekolah karena “Smack Down”. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada pendidikan kita?. Sedikit mengutip kata-kata John Keating dalam Dead Poets Society bahwa pendidikan adalah “belajar untuk berpikir sendiri, untuk menemukan cara sendiri”, maka sudahkah kita benar-benar merasakan hal ini dari pendidikan kita?Dead Poets Society bisa jadi diputar karena kegelisahan mereka atas pendidikan yang sedang mereka rasakan. Bisa jadi para siswa didik itu tengah berteriak, “Kami ingin memiliki pendidik seperti John Keating, yang bisa mengobarkan semangat dalam diri”. John Keating menjadi captain bagi para siswa tokoh cerita dalam Dead Poets Society. Sebaliknya bagi sekolah dan rekan mengajarnya, John Keating merupakan penyakit yang memicu masalah di sekolah mereka yang akhirnya dikeluarkan dari sekolah walau dengan cara mencari-cari pembenaran. Bagi para orang tua siswa, John Keating juga layak dikeluarkan dari sekolah karena membuat anak-anak mereka berani menentang mereka. Tapi sekali lagi tidak bagi kelompok Dead Poet, John Keating tetap kapten mereka yang bahkan bisa membuat Todd Anderson, siswa yang tidak pernah menunjukkan sikapnya, bereaksi bahkan dapat menggerakkan teman-temannya untuk menunjukkan sikapnya pada John Keating.

Jadi siapa yang salah? Mungkin pertanyaan ini tidak tepat, atau baiknya ditanyakan dan dijawab masing-masing dengan cara masing-masing sebagai pendidik, siswa didik atau orangtua.Dead Poets Society dengan adegan-adegannya juga menunjukkan bahwa sekolah, para guru, dan para orangtua tersebut tidak memiliki niat buruk untuk para siswa dan anak-anaknya. Mereka merasa bahwa mereka tengah melakukan hal yang terbaik untuk siswa-siswa dan anak-anak mereka. Bisa dilihat dalam salah satu scene, betapa sedihnya orangtua Neil Perry ketika mendapati anak mereka bunuh diri sebagai dampak dari keinginan mereka yang mereka anggap terbaik. Mereka mungkin tidak tahu yang mereka anggap terbaik belum tentu terbaik karena mereka tidak pernah atau tidak ingin mendengarDead Poets Society nampaknya bisa menjadi inspirasi untuk para pendidik untuk menyadari dan terus bereksplorasi mencari cara yang bisa selalu meningkatkan ekstase peserta didik untuk terus belajar. Bagi peserta didik, Dead Poet Society nampaknya juga bisa menjadi dorongan untuk terus memberi energi positif pada sang pendidik. Kelompok Dead Poet bukanlah sekelompok siswa yang hanya sekedar menentang sekolah dan orang tua mereka tanpa menunjukkan bahwa mereka mampu berprestasi. John Keating pun mengingatkan dalam salah satu scene, “ada saat untuk meraih kesempatan, dan ada saat untuk berhati-hati”.

(Ines widya : 10080005186)

~ oleh cardut pada Januari 29, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: