Dago Pakar – Maribaya

 

Teks oleh : Hadi N.I

Mau berolahraga murah dan sehat? Jalan kaki sepanjang hutan Dago Pakar sampai dengan Maribaya dijamin murah dan sehat. Murah karena bayar tiket masuk Dago Pakar sekitar Rp 3000,- dan bayar lagi sekitar Rp 3000,- juga saat masuk ke kawasan Maribaya.
Hari Minggu kemarin dalam rangka pupujieun menurut istilah dalam Bahasa Sunda, saya dan teman-teman lain dari Cidurian : Hadi, Ines, Vidi, Adit dan Wida, pergi mengukur jarak antara Dago Pakar sampai dengan Maribaya.
Tentu saja sebelum kami berangkat, tepat di pertigaan menuju Dago Pakar dan Dago PLTA Bengkok, kami menyempatkan diri untuk menikmati bakso kampung di pinggir jalan. Rasanya cukup lezat dan harganya murah. Setelah itu barulah kami bergerak dengan berjalan kaki karena kami yakin kalau naik mobil perangnya Abi atau naik angkot itu sama sekali engga aci.
Berjalan kaki ke Maribaya ke Dago Pakar cukup nyaman karena jalan setapak disana sudah dipasangi paving block. Namun motor-motor ojeg yang berseliweran sangat sangat mengganggu kenyamanan berjalan kaki. Belum lagi asap motornya yang mengotori udara di hutan dan bunyinya yang berisik sanggup mengusir jin yang mungkin berdiam disana. Terasa sekali udara di pegunungan Bandung ini tidak sedingin dan sesejuk lima belas tahun lalu, dulu saya ke Dago Pakar jam 12 siang masih bisa menggigil kedinginan. Sekarang sih alam disana makin rusak. Di kawasan Dago atas sekarang banyak perumahan, restoran, dan apapun itu. Dan hutan-hutan makin banyak saja yang ditebang, mungkin supaya lebih mudah banjir. Entahlah mungkin suatu hari kota Bandung akan dijadikan danau sekali lagi.
Setelah berjalan menanjak dan menurun (kebanyakan sih jalanan mendaki tentu saja), kami sampai ke Maribaya. Karena sedang musim kemarau tampak debit air terjun di Maribaya berkurang. Rumput-rumput di area taman sekitar tampak mengering. Sampah dimana-mana, bahkan di sungai!. Saya sempat memarahi seorang ibu-ibu yang seenaknya membuang satu kantong plastik besar berisi sampah ke sungai. Sangeunahna pisan!. Memangnya sungai itu tempat sampah.
Menyedihkan di tempat wisata ini saya hitung-hitung jumlah tempat sampah sangat minim. Yang ada pun sudah tampak penuh berjejal-jejal tak terurus. Tapi memang sih di kota Bandung pun rasanya kekurangan tempat sampah. Di area Gasibu saja, kalau mau buang sampah mesti keliling-keliling dulu cari tempat sampah. Selokan sekitar Gasibu pun banyak sampahnya. Mungkin orang-orang cape mencari tempat sampah hingga akhirnya main lempar ke selokan.
Setelah tidur-tiduran di bawah pohon dengan menyewa samak, minum teh botol dan juga ngiler melihat orang-orang lain membuka timbel, akhirnya kami pulang. Keluar dari kawasan Maribaya dengan berjalan kaki, dan kemudian naik angkot sampai Pasar Lembang. Dilanjutkan naik delman ke tempat ayam goreng. Tentu saja. Karena yang penting dari suatu kegiatan wisata, olahraga, dan lain sebagainya, tentu saja acara makannya!.

draft

oleh Embun malam 09:45:00

~ oleh cardut pada Januari 29, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: