KEBEBASAN DALAM MERAIH KESEMPATAN

MENILIK ARTI KEBEBASAN DALAM MERAIH KESEMPATAN

DEAD POETS SOCIETY

Karya Tom Schulman

Oleh : HADI NURUL ISLAM ( 10080005014)  

CARPE DIEM! Seize the day! Raihlah kesempatan! Itulah yang dikatakan oleh Mr. Keating seorang guru bahasa inggris yang bergaya flamboyan, seolah – olah memang sangat mudah untuk merebut kesempatan. Walaupun berbagai rintangan, baik itu kecil maupun besar selalu menghadang. Carpe Diem! Menjadi semacam pemantik untuk membakar keputusasaan dalam meraih kesempatan, meraih hidup yang sesungguhnya tentunya.  Memang tidak semudah seperti menyebutkan kata – katanya. Karena sebagai makhluk hidup, suatu saat kita akan berhenti bernafas,  menjadi dingin, betapa sulit untuk dipercaya. Tetapi kematian memang akan menjemput kita, tentunya hal itu tidak ingin terjadi disaat kita berputus asa bukan?Semua orang tentu belum berpengalaman dalam mengarungi bahtera hidup ini. Semua tentu menjalaninya untuk yang pertama kalinya. Layaknya mimpi yang panjang dan sukar untuk terbangun. Namun ada satu cara untuk menyadari bahwa kita hidup, dengan tidak terus terlarut dalam mimpi – mimpi kita. Caranya dengan memakai kata – kata. Manusia tanpa kata – kata, tanpa sistem bahasa,  bisa berbuat apa? Bagaimana caranya merajut makna? Tak bisa. Begitu yang diungkapkan Saussure. Tetapi bahasa pun mempunyai ambisi untuk menyamaratakan kesan setiap manusia karena manusia harus menggunakan tanda yang sama. Tetapi manusia tetap membutuhkan kata untuk membangunkannya dari mimpi yang sukar berhenti.Maka lahirlah para penyair, yang membawa  ‘serbuk ajaib’. Mereka taburkan serbuk ajaib itu bagi siapa saja yang sedang bermimpi. ‘serbuk ajaib’ itu adalah kata-kata. Seperti yang dilakukan oleh Sokrates  dengan pernyataan – pernyataan radikalnya yang membuat para pemuda di Athena tersengat, terganggu hingga akhirnya berusaha  untuk mencari kebenaran.Seperti yang juga diungkapkan Whitman dalam puisinya:O, kehidupan yang penuh dengan pertanyaan yang terus muncul,Tentang rangkaian ketidakyakinan yang tak pernah berakhir, tentang kota yang diisi dengan kebodohan…Apa gunanya berada diantara semua ini O kehidupan?  JawabannyaBahwa kalian ada disini – bahwa kehidupan ada dan jati diri itu adaBahwa sandiwara yag hebat ini terus berlanjut dan kalian bisa menyumbangkan sebuah syair. Para penyair ada untuk menawarkan sebuah gairah akan hidup yang seringkali bergulir dalam diri manusia. Dalam Dead Poet Society ini para tokohnya seolah – olah telah terbukakan matanya, pemikirannya akan kebebasan oleh kata – kata yang membakar hati dari para penyair. Mereka mati dan membiarkan puisi – puisi itu mengalir kedalam aliran darah mereka yang semula terasa beku. Mereka mencoba untuk meraih hidup, meraih kesempatan dengan digelorakan kata –kata.Puisi dalam Dead Poet Society menjadi semacam ‘serbuk ajaib’ bagi para tokoh – tokohnya. Keajaiban kata-kata tengah bekerja dalam diri mereka. Mereka ditawari manisnya mencicipi sebuah kebebasan yaitu kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Kata – kata telah menjadikan mereka betul – betul merasa ‘berada’ di bawah pengaruh orangtua yang otoriter terhadap diri mereka. Kata – kata puitis yang penuh dengan sengatan itu tiba – tiba saja menggoncangkan hidup mereka. Hamper setiap malam perkumpulan itu membiarkan kesadarannya digayuti dengan energy yang disalurkan dengan membaca puisi. Kata – kata dalam puisi memiliki kebebasan untuk bermain dan memiliki makna yang luas. Kata – kata puisi bukanlah bahasa yang mapan dan penuh keterikatan, kebergantungan pada kemapanan. Serta yang paling mendasar adalah bahwa kata – kata puisi justru sangat dekat dengan ‘ketidaksadaran’. Disitulah kata – kata telah menjadi ‘pembangun’ mereka dari ketertiduran mereka selama ini. Mereka seperti membaca bagian dari diri mereka yang selama ini tersembunyi. Kata – kata yang sangat dekat dengan ketidaksadaran itu membuat mereka menemukan sesuatu yaitu rahasia kehidupan, sumsum kehidupan. Raihlah sumsum kehidupan itu maka mereka pun larut dalam ketidaksadaran kata – kata.Tetapi memang tak mudah untuk berdiri diatas pijakan kaki sendiri bahkan tak mudah untuk mempunyai suara sendiri. Neil Perry adalah salah satu tokoh yang harus menebus penemuannya akan kebebasannya untuk menjadi diri sendiri dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Ia adalah sebuah symbol bahwa meraih hidup itu tak mudah karena selain membutuhkan tekad juga membutuhkan ketegaran dalam menghadapi siapapun yang menentangnya. Ia adalah contoh terampasnya sebuah kebebasan mendasar setiap manusia di dalam kehidupannya yaitu kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.Dead Poets Society  telah memberikan gambaran jalinan antara kekuatan kata dengan permasalahan meraih hidup. Melalui kata – kata mereka belajar untuk membaca dirinya. Terdapat keterkaitan yang kuat antara diri dan membaca. Mereka akan melihat jalinan – jalinan tanda di dalam teks yaitu tanda – tanda yang merujuk pada pemahaman akan diri mereka. Serpihan – serpihan diri mereka. Mereka membaca, memahami untuk kemudian memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya.Secara umum Dead Poets Society sangatlah mendukung upaya bangsa ini untuk menggali kekayaan anak negeri dengan cara membaca. Dengan membaca berarti kita tengah mencari siapa diri kita dan mencari tahu apa yang betul – betul baik untuk kita. Film ini memberikan sebuah gairah baru bagi penontonnya, terlebih penulis sendiri.    

~ oleh cardut pada Januari 28, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: