Simadu Mahal Sekali

(Oleh: Ismi Rizka M._10080005112 dan Fenny Hadinata_10080005145)

Panas terik hari ini memulai perjalanan kami mencari berita. 19 Nopember. Agaknya hari inilah saat yang tepat untuk mencari berita yang menarik di kawasan Ledeng, Bandung Utara. Jam yang melingkar di tangan Fenny menunjukkan angka 10.45 wib. Waktu yang cukup efektif untuk meliput berita.

Setelah mengendarai motor cukup lama, Ismi yang berada di jok belakang tiba-tiba berteriak sambil menjulurkan tangannya ke arah warung-warung nanas yang berjejer di kawasan itu. Mmh.. Sepertinya ini akan menarik untuk dijadikan sebuah liputan. Kami memutuskan untuk berhenti di salah satu warung nanas yang berjejer di sana. Kedatangan kami yang hanya ingin ’nanya-nanya’ itu ternyata disambut hangat oleh bu Entin, sang pemilik warung.

Tidak segan-segan, bu Entin malah mengajak kami masuk ke dalam warungnya yang terasa dingin dan cukup nyaman. Bu Entin sebenarnya orang asli Subang yang sengaja mengontrak rumah di kawasan Ledeng untuk berdagang nanas.

”Abis banyak saingannya, Neng, kalau ibu jualan di Subang teh.” katanya sedikit memelas, mengutarakan alasannya mengapa dia yang orang asli Subang malah berjualan di kawasan orang lain.

Bu Entin sendiri ’mengekspor’ nanas-nanas yang bergelantungan itu dari pasar induk Caringin dalam waktu 3 hari sekali. Itu pun tergantung persediaan yang masih dimilikinya. Dalam sekali angkut, bu Entin mampu membeli hingga 300 buah nanas untuk dipasarkan kembali. Jumlah itu ternyata bervariasi. Mulai dari nanas super, simadu, dan nanas biasa dapat ditemui di warung ini.

”Kok ngambilnya banyak banget, Bu? Nanti kalo gak laku gimana?” tanya Ismi sedikit penasaran.

”Ya.. itu sih sudah resiko ibu, Neng. Apalagi kalo musim ujan gini, ya pasti banyak ruginya.” katanya sedikit menerawang sedih.

Kerugian bu Entin tentu saja bertambah karena sang agen nanas tidak akan mau menerima pengembalian barang. Dan kalau sudah begini, banting harga bukan tidak mungkin akan dilakukannya agar nanas-nanas itu laku terjual.

Nanas Subang terkenal karena nanas ini mempunyai kandungan air yang banyak dan rasanya yang manis serta tidak akan terasa gatal di lidah. Apalagi nanas jenis simadu yang menurut bu Entin paling banyak dicari orang. Nanas ini mempunyai kualitas rasa manis yang lebih tinggi dibanding dua jenis nanas lainnya. Warnanya yang kuning juga menjadi nilai plus mengapa nanas ini begitu laku dipasaran. Untuk nanas jenis ini, bu Entin mematok harga Rp 7.500,- sampai Rp 10.000,- per buah. Harga ini tentu saja berbeda jauh dengan nanas biasa yang harganya relatif lebih murah, yaitu sekitar Rp 2.000,- sampai Rp 2.500,- per buah.

”Bu, suka dibeda-bedain gak harganya buat yang naek mobil sama yang naek motor?” celetuk Fenny yang penasaran ingin mengulik trik pedagang kaki lima seperti bu Entin ini.

Ternyata jawaban bu Entin cukup sederhana.

”Enggak, Neng. Semuanya ditawarin harga yang sama. Malah orang-orang bermobil teh, kalo nawar suka kelewatan.” katanya sedikit sinis.

Obrolan kami pun berlangsung cukup lama. Hingga bu Entin mengatakan bahwa sebenarnya dia ingin sekali memiliki kebun nanas dan memasarkannya sendiri. Namun agaknya cita-citanya itu hanya dapat dipendamnya saja. Mengingat untuk membukan kebun nanas sudah pasti memerlukan modal yang cukup besar. Apalagi saat ini dia sudah kehilangan suami tercintanya, jadi hanya dia dan anak-anaknya saja lah yang terus menaungi usaha ini.

~ oleh cardut pada November 19, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: