Kotoran Jalan Membersihkan Polusi

 

 

 

 

 

 

 

Oleh : Carda Arifin (10080005065)

Turun dari arah Lembang menuju ke kota Bandung wajahku berseri-seri setelah merasakan udara yang cukup segar dari daerah Lembang atas. Pemandangan Lembang yang cukup indah menjernihkan mata yang sedari pagi tadi jenuh melihat jalan-jalan di perkotaan penuh sesak aktivitas yang menjadi rutinitas warga Bandung. Cuaca pada saat itu berawan, tidak terlalu panas namun matahari muncul menghangatkan daerah Bandung Utara itu. Wajahku diterpa angin karena motor yang kukendarai bersama Agung melintas cukup stabil mengingat jalanan pun tidak terlalu ramai. Maklum, meskipun Lembang salah satu daya tarik wisata kota Bandung tapi di hari siang bolong seperti ini jalanan cukup sepi. Pemandangan hijau disebelah kiri atau kananku terkadang sedikit terhalang oleh bangunan-bangunan rumah yang kini berdiri di pinggiran jalan. Jaraknya hanya beberapa meter di dekat aspal jalan utama. Bangunan rumah dipinggiran jalan itu rata-rata dijadikan tempat untuk usaha, dari mulai warung kopi, warung nasi, ternak kelinci (sekaligus sate kelinci), atau penjual buah strawberry – orang Lembang menulisnya di papan jual dengan tulisan stroberi. Udara dari atas memang cukup sejuk, tapi ketika sedikit demi sedikit merapat kearah kota, udara pun menjadi pengap. Kendaraan mulai banyak. Udara yang tadinya jernih bersih – meskipun tak terlihat – mungkin kini sudah berwarna hitam dan keruh. Knalpot-knalpot mobil yang sudah tak layak menjadi penyebabnya. Meskipun motorku ini mengeluarkan asap knalpot, tapi tak separah mobil tua rongsokan yang asapnya mengepul bergabung dengan udara yang bersih. Warnanya kini terlihat, sangat hitam kecoklat-coklatan. Jumlah mobil berasap tebal itu cukup banyak, mungkin mengingat daerah Lembang yang penduduknya masih dengan harus memakai jasa kendaraan butut itu demi mencari nafkah, ketimbang mereka memperdulikan udara disekitar yang lambat-laun akan membahayakan kesehatan mereka. Kulewati beberapa belokan jalan menuju pasar. Disana pun tak kalah pengapnya, matahari mendadak menjadi panas tak bersahabat, jalanan jadi macet dijejali angkutan kota yang diparkir hampir ditengah jalan dengan seenaknya. Belum lagi suasana pasar. Meskipun bau khas yang ditimbulkan pasar tidak terlalu tercium aromanya sampai ke jalan, tapi melihat keadaan jalanan tetap saja buyatak. Mulai dari cairan-cairan yang keluar dari balik sampah sayuran dan buah-buahan, sampai ke kotoran kuda yang berserakan di jalan. Ya, kotoran kuda! Menarik memang, di jaman sekarang masih terlihat kotoran kuda masih berceceran di jalanan. Warnanya hijau namun dengan warna yang tidak terlalu cerah dan juga tidak terlalu gelap. Mungkin perpaduan antara hijau rumput dan air alam yang diolah didalam perutnya, dan hasilnya… bisa terlihat juga tercium di jalanan daerah Bandung Utara ini. Beberapa saat kemudian kami melaju – setelah sebelumnya harus merayap di belakang angkot – dan kami pun menemui asal muasal kotoran hewan itu.

Berderet-deret sepanjang jalan tepat di depan pasar, terlihat delman-delman yang ‘terparkir’ disana. Misinya tak kalah dari dari kendaraan bervelg , yaitu mencari penumpang – atau lebih tepatnya mencari uang. Kendaraan beroda khas yang ditarik oleh kuda itu cukup banyak terlihat. Dan masalah lalu-lintas jalan, ternyata mereka pun sama, mengantri, atau terkadang kita yang harus ‘membuntuti’ dibelakang mereka. Itu terlihat dari pemandangan tak jauh dari tempat mereka ‘mangkal’. Kuda-kuda itu layaknya telah bersahabat dengan mobil keluaran Jepang yang berada disampingnya itu. Karena tertarik aku langsung turun dari motorku, dan menemui salah seorang ‘Pak kusir’ yang sedang tak bekerja. Lalu kami berbincang di tengah keramaian dan kemacetan pasar.

Seseorang yang cukup tangguh kurasa. Terlihat dari keriput wajah kerasnya yang bisa kukira berapa angka pertama umurnya itu. Beliau biasa disapa Abah Kumis. Menurut penuturannya beliau paling senior disini, mungkin pekerjaannya itu sudah mendarah daging. Pria kelahiran 1928 itu memang sangat tangguh. Di usianya, seharusnya beliau sudah tidak perlu memikirkan masalah duniawi. Apalagi ternyata beliau biasa menempuh jarak jauh menarik penumpang dengan delmannya itu. “Delman disini mah sama dengan ankgot, kalau dulu sih nggak banyak. Biasanya dari pasar, atau ke Lembang atas, atau ke Cihideung.” Tarifnya pun ternyata cukup murah seperti yang ditucapkan beliau, “Jauh dekat perorangnya seribu rupiah. Kalau bawa belanjaan, misalnya ke Lembang, harganya lima ribu.”

Tangguh bukan! Tapi kalau melihat dari raut wajah sang kuda tak tega rasanya. Mulutnya berbusa, itu mungkin disebabkan air liur yang tampaknya kuda itu terkena dehidrasi tingkat tinggi. “Bapak mah udah beberapa kali ganti kuda,” ucapnya ketika ditanya soal perawatan hewan itu. “Perwatannya harus rajin, soalna kuda ini teh kan milik sendiri, jadi nggak boleh jorok.” Mendengar penuturan beliau, aku sedikit lega rasanya. Meskipun masih tetap terlihat kejam, tapi jika beliau memang merawatnya dengan baik, apa boleh dikata, mugkin memang nasib menjadikan sang kuda harus menjadi sebuah alat transoprtasi dari jaman moyangnya dulu.

Meskipun kendaraan tersebut adalah yang paling senior – bahkan dari mobil tua berasap tadi – tapi delman tak luput dari yang namanya beliau sebut saptimpol. “Pernah, ditertibkan sama polisi, sama kapolsek,” ucapnya. “Apalagi masalah kotoran dijalanan itu pernah di tegur sama Tata Kota.”

Kendaraan yang semakin langka ini seharusnya di abadikan atau bahkan dijadikan lagi kendaraan ‘wajib’ Negara. Delman seharusnya didukung dan kalau perlu di buat undang-undangnya. Ironis memang persaingan mereka dengan kendaraan berknalpot itu. Mereka melawan jaman, mereka mencari nafkah, dan tanpa disadari mereka menyelamatkan lingkungan. Ya, secuil kotoran-kotoran di jalan tak seberapa apabila dampaknya ternyata bisa mengurangi polusi udara dan membersihkan lingkungan.

 

 

~ oleh cardut pada November 19, 2007.

Satu Tanggapan to “Kotoran Jalan Membersihkan Polusi”

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: