HIDUPNYA ADALAH PILIHANNYA

•Januari 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Film ini menceritakan tentang tertekannya seorang anak karena sebuah cita – cita yang tidak dapat ia raih karena keangkuhan ayahnya.

Di sebuah sekolah yang seluruh siswanya adalah laki – laki ada seorang anak yang memiliki harapan atas cita – citanya untuk menjadi seorang pekerja seni. Ketika usianya terus – menerus beranjak dewasa ia merasa didalam dunia seni peranlah jiwa dan bakatnya berada tetapi, pada kenyataannya ia tidak mendapat dukungan dari sang ayah yang tidak setuju jika anaknya menjadi seorang pekerja seni.

Karena ayahnya tidak setuju dengan keinginan anaknya, ayahnya pun berniat memindahkan sekolah anaknya itu kesekolah militer yang notamene adalah sekolah yang dapat membentuk anaknya menjadi orang yang kuat, tegas sesuai dengan keinginan ayahnya.

Dua bait cerita diatas sedikit memang untuk menceritakan isi dari sebuah film tetapi yang terpenting adalah apa makna dan tujuan yang bisa kita ambil dari secuil bait yang kita tuangkan diatas terutama untuk masa depan seorang anak.

Yang paling penting buat para orang tua yang ingin membentuk anaknya menjadi anak yang berhasil adalah :

*      Kita sebagai orang tua jangan berusaha membentuk seorang anak menjadi apa yang kita inginkan.

*      Biarkan mereka meraih harapan dan impian mereka

*      Kita cari tahu minat dan bakat mereka.

*      Dukung dan Bimbing mereka untuk meraih cita – citanya.

 

Hal -hal yang harus dihindari oleh orang tua untuk membentuk seorang anak yang berhasil :

*      Jangan terlalu menekan anak.

*      Jangan memarahi sang anak jika tidak dapat memperoleh impiannya.

Jika seorang anak tertekan oleh orang tuanya dalam meraih cita – citanya hal yang akan timbul akibat dari prilaku diatas biasanya sang anak akan depresi dan mentalnya pun akan terganggu. Dia akan melakukan sesuatu hal diluar kebiasaannya dengan mengakhiri hidupnya dengan banyak cara :

*      Minum obat nyamuk.

*      Terjun bebas.

*      Gantung diri.

*      Memutuskan urat nadi.

” Serem kan ” makannya dari pada kita memaksakan sebuah kehendak yang belum pasti akhir dari perjalanannya lebih baik. (Anak Agung Gde Bramayudha Putra – 10080005043)

JAGA BUAH HATIMU BIARKAN MEREKA MELANGKAH SESUAI DENGAN IMPIAN DAN HARAPAN MEREKA ”

 

 

 

Mari Kita Membuat Pendidikan Kita ‘Bebas’ dan Hidup

•Januari 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa, bahasa Indonesia t

Mari Kita Membuat Pendidikan Kita ‘Bebas’ dan Hidup

Dead Poets Society yang disutradarai oleh Peter Weir ini bercerita tentang sekolah berasrama (Welton) setingkat SMA yang terkenal karena kedisiplinannya dan diakui berhasil meluluskan siswa-siswa hebat yang bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah-sekolah hebat. Layaknya sekolah berasrama, mereka terbiasa dengan keseragaman. Scene yang tampak dari ruang kelas adalah suasana kelas yang kaku dengan guru-guru hebat yang harus selalu didengar dan diikuti. inti cerita ada pada sekelompok siswa yang harus selalu tampak patuh di sekolah dan di hadapan orang tua mereka yang memang mendukung pendidikan di Welton. Namun diam-diam di balik kepatuhan tersebut, mereka adalah siswa bebas yang terkadang menertawakan kepatuhan mereka. Mereka memelesetkan empat pilar sekolah tersebut yang harus dihubungkan dengan keyakinan, Tradisi, Kehormatan, Disiplin, dan Kesempurnaan menjadi Tiruan, Horor, Dekadensi, dan Kotoran. Nama Sekolah mereka “Welton” pun dipelesetkan menjadi “Hell-ton”. Suasana monoton kelas mereka sedikit berubah dengan kedatangan seorang guru baru, John Keating (diperankan oleh Robin Williams). John Keating memberi mereka nuansa baru. Kata-kata John Keating di hari pertamanya mengajar “Carpe Diem” dalam bahasa latin yang diinggriskan oleh mereka menjadi “Seize the Day” dan diindonesiakan menjadi “Raihlah Kesempatan” menjadi motivasi buat mereka mengejar impiannya bahkan mengejar cinta yang tampak tidak mungkin sekalipun. Kepenasaran para siswa ini pada John Keating membuat mereka berusaha menemukan buku tahunan John Keating yang juga merupakan alumni sekolah tersebut. Dari buku itulah mereka mengetahui tentang Dead Poet’s Society, yaitu kelompok yang menghidupkan kembali sastra yang salah satu kegiatannya membaca puisi dalam sebuah gua. Kelompok ini jelas kelompok terlarang di sekolah tersebut, namun diam-diam mereka menghidupkannya kembali dan diam-diam mereka keluar dari sekolah di malam hari menuju sebuah gua untuk membaca puisi, menikmati kebahagiaan dan kebebasan mereka.

Dead Poets Society bukanlah film baru tapi rasanya tetap wajib ditonton bersama oleh para pendidik, siswa didiknya, dan bahkan para orang tua. Melihat dengan cara berbeda ini untuk mempraktikkan ajaran John Keating dalam kelasnya yang sampai-sampai menyuruh para siswa didi berdiri di atas meja untuk melihat dengan cara berbeda.Dead Poets Society bisa jadi merupakan respon atas kegelisahan mengenai pendidikan. Dan sekali lagi ini bukan film baru, dengan kata lain pendidikan sudah dan selalu menjadi isu penting sejak lama, bahkan di tempat yang jauh dari Indonesia sekalipun. Namun sayangnya fenomena yang sering muncul sekarang bisa jadi tetap merupakan potret kelam dari pendidikan, ambil contoh kasus IPDN dan korban-korban dari sekolah karena “Smack Down”. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada pendidikan kita?. Sedikit mengutip kata-kata John Keating dalam Dead Poets Society bahwa pendidikan adalah “belajar untuk berpikir sendiri, untuk menemukan cara sendiri”, maka sudahkah kita benar-benar merasakan hal ini dari pendidikan kita?Dead Poets Society bisa jadi diputar karena kegelisahan mereka atas pendidikan yang sedang mereka rasakan. Bisa jadi para siswa didik itu tengah berteriak, “Kami ingin memiliki pendidik seperti John Keating, yang bisa mengobarkan semangat dalam diri”. John Keating menjadi captain bagi para siswa tokoh cerita dalam Dead Poets Society. Sebaliknya bagi sekolah dan rekan mengajarnya, John Keating merupakan penyakit yang memicu masalah di sekolah mereka yang akhirnya dikeluarkan dari sekolah walau dengan cara mencari-cari pembenaran. Bagi para orang tua siswa, John Keating juga layak dikeluarkan dari sekolah karena membuat anak-anak mereka berani menentang mereka. Tapi sekali lagi tidak bagi kelompok Dead Poet, John Keating tetap kapten mereka yang bahkan bisa membuat Todd Anderson, siswa yang tidak pernah menunjukkan sikapnya, bereaksi bahkan dapat menggerakkan teman-temannya untuk menunjukkan sikapnya pada John Keating.

Jadi siapa yang salah? Mungkin pertanyaan ini tidak tepat, atau baiknya ditanyakan dan dijawab masing-masing dengan cara masing-masing sebagai pendidik, siswa didik atau orangtua.Dead Poets Society dengan adegan-adegannya juga menunjukkan bahwa sekolah, para guru, dan para orangtua tersebut tidak memiliki niat buruk untuk para siswa dan anak-anaknya. Mereka merasa bahwa mereka tengah melakukan hal yang terbaik untuk siswa-siswa dan anak-anak mereka. Bisa dilihat dalam salah satu scene, betapa sedihnya orangtua Neil Perry ketika mendapati anak mereka bunuh diri sebagai dampak dari keinginan mereka yang mereka anggap terbaik. Mereka mungkin tidak tahu yang mereka anggap terbaik belum tentu terbaik karena mereka tidak pernah atau tidak ingin mendengarDead Poets Society nampaknya bisa menjadi inspirasi untuk para pendidik untuk menyadari dan terus bereksplorasi mencari cara yang bisa selalu meningkatkan ekstase peserta didik untuk terus belajar. Bagi peserta didik, Dead Poet Society nampaknya juga bisa menjadi dorongan untuk terus memberi energi positif pada sang pendidik. Kelompok Dead Poet bukanlah sekelompok siswa yang hanya sekedar menentang sekolah dan orang tua mereka tanpa menunjukkan bahwa mereka mampu berprestasi. John Keating pun mengingatkan dalam salah satu scene, “ada saat untuk meraih kesempatan, dan ada saat untuk berhati-hati”.

(Ines widya : 10080005186)

Kenapa Anak-anak Bunuh Diri

•Januari 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

WIDA NURMAWATI

10080005031

PENULISAN ARTIKEL (UAS)

 

Jumat (15/7), penduduk Desa Cikiwul, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, dikagetkan dengan peristiwa bunuh diri seorang siswi SMP 10 Bantar Gebang. Vivi Kusrini nekat mengakhiri hidup hidup dengan menggantung diri memakai seutas tali di kamar mandi rumahnya. Menurut penuturan sang Ayah, mungkin alasan Vivi gantung diri karena malu sering diejek teman sekolahnya sebagai anak tukang bubur. Terlebih lagi menjelang tahun ajaran baru ini Vivi belum punya seragam sekolah. (Liputan6.com,16/07/2005)

Kalau diperhatikan contoh kasus diatas sepertinya ada misspersepsi di kalangan anak terutama pelajar tentang cara mengatasi masalah yang dihadapinya. Mereka menganggap bunuh diri sebagai jalan keluar yang praktis dan mudah untuk mengakhiri masalah.

Dari kejadian diatas, ada dua motif yang umumnya memancing para pelajar itu berbuat nekat melakukan bunuh diri:

Pertama, kesulitan ekonomi. Ketika biaya pendidikan di negeri ini kian mahal, para pelajar itu harus berhadapan dengan ekonomi keluarga yang pas-pasan. Padahal orang tua mereka sudah berusaha membanting tulang untuk anak demi mengenyam pendidikan formal. Tetapi bisa sekolah saja belum cukup disamping itu mereka juga harus membeli peralatan sekolah lainnya seperti seragam, buku-buku catatan dan buku-buku pelajaran, serta ekstra kulikuler. Walhasil rasa malu dating menghinggapi pelajar yang tidak bisa memenuhi tuntutan biaya pendidikan.

Kedua, hubungan keluarga yang tidak harmonis. Masih ada oran tua atau sang kakak yang mengekspresikan rasa sayangnya kepada adik dengan kemarahan ketika berselisih. Seolah-olah yang paling muda selalu salah. Sang adik masi dianggap anak kecil yang tidak punya hak untuk berbicara atau membela diri. Sang adik pun menjadi iri dan merasa tidak ada yang memperhatikan dan akhirnya mereka pun mengambil jalan yang salah yaitu bunuh diri.

Kesulitan hidup adalah bagian dari kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Oleh karena itu nikmatilah kesulitan itu dengan berfikir positif. Dengan berpikir positif, maka kita akan lebih terbuka, hati kita akan lebih peka, dan pikiran kita akan lebih leluasa memandang sebuah permasalahan dari berbagai sisi. Dan ternyata, Allah tidak akan memberikan cobaan hidup diluar kemampuan umatnya. Harapan ini yang harus kita pegang agar kita punya alasan yang kuat untuk tetap hidup meraih Ridho Allah dalam kehidupan dunia

 

dead poet’s society dan keberanian

•Januari 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Nama : Yugi Dwi Mardani

NPM : 10080005086

Pen. Artikel UAS

 

 

Dead Poet’s Society

 

Film ini mencaritakan tentang suatu komunitas terselubung yang terdapat pada sebuah sekolah terkenal. Komunitas ini sebenarnya sudah lama berdiri, tetapi kerena suatu hal komunitas ini kemudian dibubarkan oleh pihak sekolah. Setelah beberapa lama komunitas ini di bubarkan, dan anggotanya sebagian besar telah pergi entah kemana, kemudian bekas salah satu anggota komunitas ini kembali ke sekolah tersebut. Tetati dia disana sebagai guru salah satu pelajaran di sekolah itu. Pelajaran sastra adalah mata pelajaran yang dia ajarkan.

 

Dikelas itu terdapat beberapa siswa yang memiliki kepribadian yang berdeda. Pada hari pertama kelas itu para siswa merasa heran kerena cara pengajaran guru itu yang berbeda, cara mengajar yang berbeda itulah yang membuat sebagian besar siswa tertarik untuk selalu mengikuti pelajaran tersebut. Suatu ketika salah satu dari siswa itu menemukan buku satra yang berusia saudah sangat lama di perpustakaan sekolahnya, didalam buku itu ditulis Deep Poet’s society dengan nama guru itu. Akhirtnya siswa-siswa tersebut menanyakan langsung kepada mr. keating yang tidak lain adalah sang guru. Kemudian guru itu akhirnya menceritakan tentang keberadaan deep poet’s society. Secara tidak langsung cerita Mr. keating itu membangkitkan semangat para siswa untuk kembali mengaktifkan deep poet’s society.

Akhirnya tanpa pengetahuan dari pihak sekolah, dan sang guru itu Dead Poet’s society kembali diaktifkan lg. para siswa mulai perkumpulan setelah keadaan asrama sudah mulai sepi. Dan secara bergantian para anggota dead poet’s society yang baru ini membacakan puisi nya satu per satu.

 

Secara komunikasi film ini dapat membangkitkan semangat bagi setiap orang yang menontonnya, di dalam ceerita tersebut terdapat unsure-unsur komunikasi yang mampu membangkitkan semangat, membuat kita berani dalam mengambil keputusan apapun dala hidup kita.

ambisi orangtua dan cita cita anak

•Januari 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

AMBISI ORANG TUA DAN CITA-CITA ANAK

Setiap manusia menginginkan kebebasan dalam hidupnya. Baik dari kebebasan memilih agama, sekolah, bergaul dan memilih hidup bersama. Dalam film yang berjudul dead Poets Society menceritakan tentang ambisi seorang ayah yang menginginkan anaknya yang bernama Neil menjadi seorang Dokter dan ia memaksakan Neil untuk masuk Welton academy, tetapi Neil mencoba untuk mengikuti keinginannya ayahnya meskipun ia tak menyukainya. Neil bercita-cita ingin menjadi seorang pemain teater yang terkenal. Di Weton Academy neil membentuk kelompok belajar bersama Pitts, Perry, Hanger, Knox, Keating, todd, dan Dalton. Saking mereka sering belajar kelompok keakraban sampai hal-hal yang konyol seklipun.

Di Welton Academy, Neil aktif dalam kegiatan teater. Ia diajar oleh seorang guru sastra inggris yang bernama John Keating. dia melihat Neil itu berbakat untuk menjadi pemain teater terkenal.

Suatu hari disekolahnya diadakan pertunjukan teater si anak itu memerankan tokoh dalam teater sangat bagus, dan pertunjuan tersebut berjalan dengan sukses. Lama-lama sang ayah pun mengetauinya dan ia pun melarang neil untuk bermain teater, tetapi sang anak menolaknya dan akhirnya ia bunuh diri dengan cara menempak ke bagian kepalanya karena ia merasa frustasi tak bisa membuat ayahnya bangga pada dirinya.

Dalam film itu kita semua dapat mengambil Hikmatnya yaitu jangan sekali-kali memaksa anak untuk mengikuti keinginan orang tua, karena si anak pun mempunyai cita-cita yang dia suka. Jika orang tua memaksa anak untuk mengikuti keinginannya, si anak akan menjadi steres bila ia terus menerus dipaksa.

Memang sulit menjadi orang tua yang baik, di saat kita mendengar keinginan sang anak dan tahu apa yang dia inginkan tetapi kita selaku orang tua tak menyetujuinya dan mengangap jika keinginanya itu salah. Selaku orang tua kita harus bersikap demokratis terhadap anak, jangan ingin menang sendiri dan mengangap jika orang tua selalu benar.

Dalam survei di salah satu majalah Orang tua idaman itu mempunyai kriteriak orang tua .di anggap baik atau demokratis jika:

eengangap jika orang tua selaau benar.inginan orang tua :

  1. Orang tua bisa menjadi teman atau sahabat bagi si anak.

Dalam hal ini orang tua harus berperan ganda, tidak hanya menjadi orang tua saja tetapi kita harus menjadi patner yang baik bagi si anak.

  1. Orang tua harus menjadi pendengar setia sang anak.

Meskipun kita sebagai orang tua sibuk, sebisa mungkin kita harus mengetaui kejadian apa yang di alami oleh sang anak pada hari ini.

  1. Jangan memaksakan sang anak untuk mengikuti keingnan kita.

Jika sang dipaksa untuk mengikuti keinginan orang tua, sang anak akan merasa jika ia tak di hargai oleh orang tua sendiri.

  1. Jangan sekali-kali membandingkan sang anak dengan orang lain.

Jika orang tua membandingkan anaknya dengan orana lain, ia akan merasa bahwa ia bukan anak kandungnya atau sang anak akan merasa bahawa ia hidup di dunia tak berguna karena selalu di banding-bandingkan.

Ismi Rizka M.

10080005112

Kelas A

Dago Pakar – Maribaya

•Januari 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Teks oleh : Hadi N.I

Mau berolahraga murah dan sehat? Jalan kaki sepanjang hutan Dago Pakar sampai dengan Maribaya dijamin murah dan sehat. Murah karena bayar tiket masuk Dago Pakar sekitar Rp 3000,- dan bayar lagi sekitar Rp 3000,- juga saat masuk ke kawasan Maribaya.
Hari Minggu kemarin dalam rangka pupujieun menurut istilah dalam Bahasa Sunda, saya dan teman-teman lain dari Cidurian : Hadi, Ines, Vidi, Adit dan Wida, pergi mengukur jarak antara Dago Pakar sampai dengan Maribaya.
Tentu saja sebelum kami berangkat, tepat di pertigaan menuju Dago Pakar dan Dago PLTA Bengkok, kami menyempatkan diri untuk menikmati bakso kampung di pinggir jalan. Rasanya cukup lezat dan harganya murah. Setelah itu barulah kami bergerak dengan berjalan kaki karena kami yakin kalau naik mobil perangnya Abi atau naik angkot itu sama sekali engga aci.
Berjalan kaki ke Maribaya ke Dago Pakar cukup nyaman karena jalan setapak disana sudah dipasangi paving block. Namun motor-motor ojeg yang berseliweran sangat sangat mengganggu kenyamanan berjalan kaki. Belum lagi asap motornya yang mengotori udara di hutan dan bunyinya yang berisik sanggup mengusir jin yang mungkin berdiam disana. Terasa sekali udara di pegunungan Bandung ini tidak sedingin dan sesejuk lima belas tahun lalu, dulu saya ke Dago Pakar jam 12 siang masih bisa menggigil kedinginan. Sekarang sih alam disana makin rusak. Di kawasan Dago atas sekarang banyak perumahan, restoran, dan apapun itu. Dan hutan-hutan makin banyak saja yang ditebang, mungkin supaya lebih mudah banjir. Entahlah mungkin suatu hari kota Bandung akan dijadikan danau sekali lagi.
Setelah berjalan menanjak dan menurun (kebanyakan sih jalanan mendaki tentu saja), kami sampai ke Maribaya. Karena sedang musim kemarau tampak debit air terjun di Maribaya berkurang. Rumput-rumput di area taman sekitar tampak mengering. Sampah dimana-mana, bahkan di sungai!. Saya sempat memarahi seorang ibu-ibu yang seenaknya membuang satu kantong plastik besar berisi sampah ke sungai. Sangeunahna pisan!. Memangnya sungai itu tempat sampah.
Menyedihkan di tempat wisata ini saya hitung-hitung jumlah tempat sampah sangat minim. Yang ada pun sudah tampak penuh berjejal-jejal tak terurus. Tapi memang sih di kota Bandung pun rasanya kekurangan tempat sampah. Di area Gasibu saja, kalau mau buang sampah mesti keliling-keliling dulu cari tempat sampah. Selokan sekitar Gasibu pun banyak sampahnya. Mungkin orang-orang cape mencari tempat sampah hingga akhirnya main lempar ke selokan.
Setelah tidur-tiduran di bawah pohon dengan menyewa samak, minum teh botol dan juga ngiler melihat orang-orang lain membuka timbel, akhirnya kami pulang. Keluar dari kawasan Maribaya dengan berjalan kaki, dan kemudian naik angkot sampai Pasar Lembang. Dilanjutkan naik delman ke tempat ayam goreng. Tentu saja. Karena yang penting dari suatu kegiatan wisata, olahraga, dan lain sebagainya, tentu saja acara makannya!.

draft

oleh Embun malam 09:45:00

Let Me Be Me

•Januari 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Fenny Hadinata

10080005145

Kelas A

Penulisan Artikel

Dalam menjalani hidupnya, manusia tentu saja harus berproses. Proses tersebut akan selalu berlangsung sampai dia tak lagi bernyawa. Namun, di balik proses-proses itulah, manusia pada akhirnya dapat mencapai puncak prestise bagi dirinya dan keluarga. Peran keluarga, khususnya orang tua dirasakan sangat vital bagi banyak orang dalam kemajuan hidupnya ke depan. Namun tidak sedikit pula yang merasa bahwa interferensi orang tua dalam menentukan masa depan, adalah tradisi yang sangat kolot yang pernah ada dan harus perlahan-lahan ditinggalkan.

Salah satu alasan mengapa banyak orang sukses dalam hidupnya, adalah karena sejak kecil mereka telah diarahkan untuk ”menjadi apa” oleh orang tuanya. Sejak kecil, mereka dibuatkan frame oleh orang tua mereka untuk menjadi seperti apa mereka kelak dalam menghadapi hidup. Pendidikan yang baik dengan perilaku yang baik adalah salah satu faktornya, mengapa seseorang bisa sukses pada masanya.

Disadari atau tidak, pendidikan mempunyai peran penting dalam hidup seorang manusia. Pendidikan itu pula bagaikan perjalanan proses demi proses hidup yang harus dilalui oleh manusia. Orang-orang yang tidak terdidik, akan mengalami kegagalan dalam hidupnya. Tetapi tidak sedikit pula orang-orang terdidik yang justru mengalami nasib lebih parah.

IQ (Intelegent Quotion) dalam diri seseorang mungkin susah untuk ditingkatkan. Namun EQ (Emotional Quotion) tentu saja menjadi pemicu dalam diri seseorang untuk maju, dan pastinya hal ini dapat seseorang tingkatkan. Keduanya harus dijalani berbarengan agar dalam menyaring pendidikan tidak terjadi ketimpangan. Kedua hal tersebut akan lebih bagus lagi apabila didorong dengan SQ yang kuat. SQ (Spiritual Quotion) saya anggap sebagai tolok ukur dalam menimbang IQ dan EQ. Apa yang dianggap baik oleh SQ, maka akan dianggap baik pula oleh keduanya.

Apabila seseorang telah dapat memaksimalkan ketiga komponen tersebut, saya rasa akan mudah bagi mereka untuk menjalani kehidupan. Mengingat manusia tipe ini dapat dikategorikan sebagai mahkluk dewasa yang sudah tentu dapat mengembangkan potensi-potensi berharga dalam diri mereka.

Masalahnya, tidak semua orang dapat dengan cepat menyadari potensi-potensi yang mereka miliki. Kebanyakan orang tidak mau atau belum menyadari sifat-sifat khas apa yang ada pada dirinya sehingga dapat mendorong mereka akan menjadi seperti apa mereka nanti.

Pada posisi inilah—saya kira—betapa peran kedua orang tua akan sangat berpengaruh. Tidak masalah apabila orang tua menganjurkan pendidikan seperti apa yang baik untuk anaknya. Mengingat betapa banyak pengalaman yang sudah mereka punyai dalam menghadapi hidup. Apa yang baik yang telah terjadi pada mereka, tentu akan dianjurkan untuk anaknya. Namun pengalaman-pengalaman buruk, sudah pasti tidak akan diulangi pada anaknya tersebut.

Tetapi yang kerap terjadi adalah pembangkangan sang anak. Pembunuhan karakter dan pengekangan kreatifitas biasanya akan dijadikan alasan pamungkas ketika seorang anak tidak mendapatkan sisi hidup yang mereka senangi yang tentunya berlawanan dengan kehendak dan cita-cita orang tua mereka.

Hidup dengan seni itu indah, namun seni yang menjadi alat untuk menjalani hidup tentu saja tidak mudah. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan orang tua enggan mengakui jiwa seni dan kreatifitas-kreatifitas apa yang sang anak miliki.

Dilema seperti ini sering sekali terjadi. Dan ”berbagi” adalah solusinya. Orang tua yang memiliki obsesi tinggi untuk anak-anak mereka seharusnya dapat memikirkan keinginan sang anak juga. Selfish juga rasanya kalau orang tua yang melulu mengambil keputusan apa untuk sang anak. Anak-anak itu tidak akan pede dalam melakukan segala sesuatu karena merasa selalu takut salah, apabila orang tua benar-benar mengambil alih segala yang harus dilakukan anak mereka. Let it flow, toh akhirnya sang anak yang akan menghadapi hidupnya kelak. Namun ada baiknya pertimbangan-pertimbangan orang tua juga dipikirkan oleh anak. Karena basically tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke dalam jurang.